Lexsy Siahaan merupakan seorang Ekonom/ peneliti muda dari Community of Economic Ecxcellent (CEE)

Senin, 01 Februari 2010

NILAI TUKAR RUPIAH BERGERAK LIAR
(KASUS SEBELUM CENTURY PASCA KRISIS GLOBAL)
Lexi Siahaan

Pendahuluan
Bagi investor Indonesia merupakan surga untuk berinvestasi portolio. Tetapi tidak demikian bagi investasi di sektor rill, Investasi di sektor ini dianggap merupakan neraka, karena berbagai persoalan” urgent” yang belum terselesaikan.
Dampak dari krisis ekonomi global yang terjadi saat ini tidak hanya menyebabkan sektor moneter tegoncang, tetapi hal yang sama juga mulai dirasakan oleh sektor rill. Naiknya harga berbagai komoditi menjadi cermin stabilitas makro yang sudah stabil sesungguhnya sedang terancam.
Indeks harga saham gabungan turun tajam kelevel yang terendah sepanjang sejarahnya. Hal yang sangat jauh dari dugaan, mengingat Indonesia merupakan tempat yang strategis untuk berinvestasi portofolio. rupiah pun terus berfluktuasi seakan-akan tidak dapat dikendalikan. Estimasi pertumbuhan ekonomi pemerintah meleset dari perkiraan.
Belajar dari krisis financial yang terjadi tahun 1997, dimana krisis yang terjadi di Indonesia akibat dipicu oleh terdepresiasinya rupiah terhadap dolar. Saat itu terjadi ekspansi modal secara besar-besaran (capital out flow).
Pertanyaannya, apakah paket kebijakan yang digulirkan pemerintah khususnya dalam mengantisifasi krisis finansial global benar-benar dapat memperbaiki iklim perekonomian dalam negeri dan dapat terimplementasi secara terukur sesuai target waktu.
Beralihnya sisitem nilai tukar rupiah dari sisitem mengambang terkendali menjadi sisten nilai tukar mengambang penuh membawa dampak terhadap pengendalian moneter di Indonesia. Kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar yang fleksibel secara teori memerlukan sensitivitas yang tinggi antara suku bunga domestik terhadap aliran modal internasional dan keeratan hubungan negatife antara nilai tukar. Oleh karena itu suku bunga merupakan leading sector dalam sitem nilai tukar fleksibel pengendalikan moneter di Indonesia.
Menimbang fakta tersebut, walaupun sistem nilai tukar rupiah fleksibel terjadi sesuai mekanisme pasar, namun sungguh sangat penting di jaga kesetabilannya. Agar tidak memberikan tekanan pada harga-harga domestic seperti yang terjadi saat ini.

Ketidakpastian iklim ekonomi

Sejumlah pengamat mengatakan, belum pulihnya indeks saham dan terkoreksinya rupiah pekan lalu membuat investor portofolio berpaling dari Indonesia. Hal tersebut menjadi pertanyaan, apakah ini akan menjadi tren berkesinambungan mengingat krisis yang terjadi saat ini belum dapat diselesaikan dan tidak tau kapan berakhir.
Penurunan harga BBM yang dilakukan pemerintan secara bertahap ternyata belum banyak menolong masyarakat, hal ini dikarenakan respon penurunan BBM tidak secepat ketika pemerintah menaikkan harga BBM. Akibatanya harga-harga komoditas tidak jauh berbeda dengan sebelum harga BBM turun. Dapat dibayangkan ,ekonomi kita tahun depan masih akan mendapat tekanan berat setidaknya di semester pertama.
Sementara itu, melemahnya nilai tukar rupiah juga ada pengaruhnya karena bank Indonesia harus menaikkan tingkat suku bunga dan ini akan berdampak kepada investasi. Pertumbuhan ekonomi harus di atas 10 persen setahun, tetapi kenyataannya yang dicapai masih dibawah ambang itu.

Mengembalikan kepercayaan
Kebijakan ekonomi saat ini cenderung mendukung perekonomian terbuka, hal tersebut terlihat dengan mudahnya krisis financial menjalar dari satu Negara ke Negara lain. Oleh karena itu Bank Indonesia tidak dapat membiarkan secara terus menerus rupiah terkoreksi, maka perlu adnya intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah karena mekanisme pasar saat ini tidak bekerja secara optimal.
Salah satu kebijakan yang merupakan instrument dalam mengendalikan ekonomi yaitu menaikkan tingkat bunga. Akan tetapi Tingkat bunga yang dttetapkan pemerintah tergolong tinggi, Sehingga banyak investor portofolio yang tergiur menanam modal jangka pendek di Indonesia. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa naiknya tingkat bunga bukan semata-mata untuk menekan inflasi namun menjaga kekuatan rupiah. Dalam hal ini Bank Indonesia seolah menembak dua target dengan satu peluru. Ini gawat.
Mengapa hal tersebut mengkhawatirkan? Karena selama ini yang menopang rupiah adalah “hot-money”. Menurut Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan, menyebut angka hot money di Indonesia Rupiah mencapai 20 milliar dollar AS, Suatu jumlah yang besar untuk bisa menggoyang system keuangan kita mengingat kapitalisasi pasar financial kita yang masih terbatas.
Seharusnya dengan krisis Finansial yang terjadi Bank Indonesia dapat belajar. Bahwa krisis financial telah membuat “hot-money” tersebut lari dari Indonesia. Kondisi ini merupakan hal yang ironis , sebab semua negara saat ini berlomba-lomba untuk menarik investor. Namun modal yang selama ini berada di Indonesia banyak yang keluar. Ternyata tingginya suku bunga saat ini bukan lagi jadi acuan satu-satunya bagi investor untuk menanamkan modalnya. Karena yang dibutuhkan oleh investor adalah membuat dana yang dimilikinya tetap aman. Akhirnya Nilai tukar rupiah yang selama ini dijaga agar tidak menembus angka 10.000 per dollar AS harus kebobolan seiring bnyaknya modal yang keluar negeri.

Harus Lebih Serius
Sejarah membuktikan bahwa krisis moneter tidak terlepas dari kesenjanga tingkat suku bunga ( interest-rate gap) yang memancing utang-utang jangka pendek mengalir ke negeri ini. Permainan hot-money lewat selisish suku bunga sangat mengerikan. Namun apabila rupiah harus dilepas dari pangkuan suku bunga, maka bukan tidak mungkin rupiah akan semakin liar.
Keseriusan Bank Indonesia melihat fenomena hot-money, sebaiknya ditanggapi dengan serius karena datangnya krisis tidak mudah untuk diprediksi. Hal lain yang ditunggu-tunggu oleh investor keseriusan pemerintah dalam menginflementasikan rangkaian kebijakan yang sudah dan akan dikucurkan.
Bagaimanapun juga tidaklah baik demi menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga, yang mendorong masuknya modal namun modal tersebut hanya sekedar parkir dan mendapat spread keuntungan. Langkah bijak Bank Indonesia untuk dapat mengkonversikan modal jangka pendek tersebut menjadi modal jangka panjang tetap dinantikan oleh sector rill.
Akan tetapi sikap BI yang selalu dingin dan tidak terkesan cemas memberikan rasa percaya diri bagi masyarakat sehingga tidak terjadi rush. Dalam hal ini spantasnya kita angkat topi, Namun kesan dingin tersebut sebaiknya tidak di ikuti dengan respen yang dingin pula melihat kondisi perekonomian saat ini.

Beberapa Kesimpulan dan Rekomendasi
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai tukar rupiah di Indonesia ditopang oleh hot-money dan ini ibarat gunung es yang suatu waktu dapat menjadi boomerang apabila dana jangka pendek tersebut tidak dikonversi kedalam dana jangka panjang. Adapun strategi yang dapat direkomendasikan sebagai upaya mengendalikan nilai tukar adalah sebagai berikut:
Pertama, sebaiknya kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan tingkat bunga harus fokus terhadap satu sasaran, seandainya sasaran tersebut adalah untuk menekan inflasi maka setiap modal yang masuk sebaiknya di arahkan pada modal jangka panjang.
Kedua, Kredibilitas BI dalam menjaga target agregat moneter tampaknya dapat di-upgrade sehingga tidak terlalu menjadi masalah.
Ketiga, karena krisis yang terjadi saat ini di karenakan fektor eksternal, maka Bank Indonesia sebaiknya melakukan intervensi secara tidak langsung. Lewat menjaga iklim perekonomian terus stabil. Maka dengan pasti nilai tukar perlahan akan semakin stabil.

selamat datang :-)

selamat datang :-)

Mengenai Saya

Jember, Jawa Timur, Indonesia