Tuhan Penjunanku
Perjalanan hidup merupakan suatu misteri yang terkadang tidak dapat dipahami oleh manusia. Kehidupan manusia ada yang mengibaratkan bagai sebuah tanah liat yang ada ditangan sang penjunan. Hanya sang penjunan yang berkuasa mutlak untuk membentuk tanah liat tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa kehidupan merupakan ibarat sebuah sekolah yang di dalamnya kita belajar mengerjakan soal-soal kehidupan. Apapun orang mengibaratkan kehidupan, kita pasti setuju bahwa selama kita hidup kita tidak akan terbebas dari pencobaan hidup.
Setiap kita pernah mengalami suatu peristiwa yang tidak kita harapkan untuk terjadi, namun yang terjadi, justru apa yang tidak kita harapkan. Saya teringat kesaksian Corrie dalam sebuah buku “Pembinaan Watak”, kamp konsentrasi Nazi merupakan tempat paling mengerikan bagi Corrie, sebelum Corrie dimasukkan ke kamp konsentrasi Jerman, dia berdoa kepada Tuhan agar Tuhan tidak membiarkan musuhnya memasukkannya ke kamp konsentrasi Jerman tersebut. Namun apa yang terjadi, Corrie tetap dijebloskan ke tempat yang mengerikan tersebut. Apa yang Corrie harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, sang penjunan (Tuhan) tidak mengabulkan doa Corrie.
Setelah Corrie ada dalam kamp konsentrasi Nazi, Tuhan memakai Corrie dengan luar biasa. Orang Yahudi yang ditawan di kamp konsentrasi Jerman, yang belum pernah mendengar tentang Tuhan Yesus kristus banyak yang memperoleh keselamatan lewat kehidupan Corrie, Corrie membawa mereka mengenal Sang juru selamat lewat pemberitaan Injil dan banyak diantara tawanan Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Buku yang saya baca menuliskan, memang banyak dari antara orang Yahudi tersebut yang mati terbunuh, akan tetapi JESUS MY SAVIOR terucap dari bibir mereka. Corrie mengatakan dalam pelayanannya di kamp konsentrasi nazi, sungguh mereka lebih berharga dari pada penderitaan kita, akhirnya Corrie dapat melihat rencana Tuhan dalam hidupnya dan dia merasakan sukacita yang luar biasa sepanjang hidupnya.
Kesaksian tersebut dijadikan rujukan dalam artikel ini agar kita dapat melihat rencana Tuhan yang indah dalam kehidupan kita. Hidup orang Kristen adalah hidup karena Iman. Iman seumpama radar yang sanggup melihat ke depan walaupun ada kabut tebal menghalangi. Jangan sampai langkah kehidupan kita berhenti, hanya karena persoalan, beban hidup dan sakit hati.
Memandang kepada rencana Tuhan merupakan cara yang terbaik untuk kita mengerti apa maksud dari semua yang kita alami. Saya belajar dari kehidupan YESUS ketika DIA hendak disalibkan, dalam kemanusiaannya, dia sangat merasakan ketakutan. Sehingga dalam doa DIA berkata “Bapa kalau boleh lalukanlah cawan ini dari padaku, tetapi bukan kehendakku yang jadi namun Kehendak MU saja” Dalam kemanusiaannya keinginan YESUS saat itu agar penderitaan di atas kayu salib boleh lalu dari padanya. Tetapi kehendaknya tidak seperti kehendak Bapa. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa Kehendak Tuhanlah yang berkuasa atas kehidupan orang yang bersandar kepadaNya, dan saya yakin apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita adalah untuk kebaikan kita.
Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, hendaknya kita memandang kepada kehendak Bapa yang mempunyai otoritas terhadap segala aspek kehidupan kita. Dan perlu kita mempunyai Iman yang teguh, agar kita dapat mengerti dan memahami kehendak Bapa. Dengan begitu, kita tidak akan putus asa ketika ada permasalahan, kita tidak akan takut untuk melangkah, apapun yang terjadi dalam hidup, kita dapat berkata “hidupku ada di tangan penjunanku (Tuhan) Dia tau apa yang terbaik buat diriku”. AMIN
Lexi Siahaan, 1 Oktober 2009