Lexsy Siahaan merupakan seorang Ekonom/ peneliti muda dari Community of Economic Ecxcellent (CEE)

Selasa, 22 Desember 2009

Melihat Kehidupan


Manusia sejak dahulunya telah memiliki pertanyaan nurani dalam dirinya, pertanyaan itu adalah dari manakah dia berasal dan apa tujuannya sehingga dia di ciptakan. Pertanyaan klasik tersebut mungkin sangat sederhana, namun apabila kita mendeskrifsikan sebuah jawaban, maka hal tersebut akan merubah cara pandang terhadap sebuah kehidupan. Motivasi untuk mengetahui keberadaan manusia tersebut terbukti melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh berbagai pakar ilmuan. Akan tetapi, jawaban atas pertanyaan manusia tersebut salah total untuk mengerti dan memahami eksisitensi keberadaan manusia. Bahkan jawaban manusia tersebut telah mereduksi cara pandang manusia, yang pada akhirnya membawa manusia pada maut.
Kehidupan adalah sebuah kebetulan, merupakan jawaban manusia yang salah total untuk mengerti dari mana dia berasal dan tujuan manusia diciptakan. Mengapa saya dapat mengatakan hal itu salah. Alasannya adalah karena saya melihat dengan cara pandang Allah.
Sebagai orang percaya sangat perlu untuk melihat kehidupan dengan cara pandang Allah karena hal tersebut akan menentukan bagaimana kita besikap dalam melakukan sesuatu atau dalam memaknai kehidupan. Sebelum anda berhenti membaca artikel ini, mari lebih dalam kita melihat cara pandang Allah terhadap sebuah kehidupan.
Tidak ada yang terjadi didalam dunia ini dikarenakan sebuah kebetulan. Termasuk diri kita sendiri. Anda maupun saya ada, bukan karena sebuah kebetulan. Yesaya 44:2 ”Beginilah firman Tuhan yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau” bertolak pada firman Tuhan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa, kelahiran anda dan saya bukanlah suatu kebetulan, keadaan paras wajah anda dan saya tidak terjadi karena kebetulan, Anda dan saya dilahirkan dalam sebuah keluarga yang tidak sesuai dengan harapan ataupun sesuai dengan harapan juga bukan karena kebetulan. Sesungguhnya keberadaan kita semua karena Kehendak Tuhan.
Tuhan membentuk kita sejak kandungan bahkan Tuhan memikirkan kita sebelum dia menjadikan bumi (Yesaya 45:18). Dengan terencana Tuhan membentuk Warna kulit, rambut, hidung, tinggi badan, bahkan setiap anggota tubuh yang mungkin kita anggap tidak elok/tidak suka. Bahkan talenta maupun keunikan yang kita miliki semua karena Allah yang merancangkannya dan tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Yakobus 1:18a “Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman dan kebenaran“. Semua yang Tuhan lakukan tersebut tidak ada yang salah. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan dalam menciptakan kita. Walupun ada seorang anak yang lahir diluar pernikahan, dan seseorang yang dilahirkan dengan tubuh yang tidak sempurna sekalipun, karena kehendak dan rencana Allah untuk suatu alasan. Intinya, Allah merencanakan dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, Allah juga merencanakan bagaimana kita dilahirkan.
Mengapa Allah melakukan semuanya ini, apa tujuannya? Jawabannya dia ingin menciptakan kita untuk menyatakan kasih-NYA bagi kemuliaan-NYA. Kasih allah dalam dan tak terselami, Kasih Allah sulit untuk dipahami akan tetapi Kasih Allah dapat dipercayai.
Akhirnya sebagai sasaran akhir dari kasih Allah. Maka dalam memandang kehidupan dengan cara Allah, sesungguhnya kita harus menyadari Allah menjadikan kita agar Dia bisa mengimplementasikan kasihNYA pada kita atau semata-mata Dia ingin mengasihi kita. Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8b).
Pertanyaannya sekarang, setelah kita mengetahui bahwa kita ada bukan karena kebetulan, dan Tuhan menciptakan kita dengan terencana dan tidak ada dari rencanaNya yang gagal, dan Allah menciptakan kita untuk menyatakan kasihNYA bagi KemuliaanNYA, Masih adakah penampilan fisik ataupun kondisi keluarga dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, yang kita sesali? Jika masih ada, Jawabannya, Marilah kita melihat kehidupan dengan cara pandang Allah.


Pustaka:
- Alkitab
-The Purpose Driven Life


Oleh: Lexi Siahaan

selamat datang :-)

selamat datang :-)

Mengenai Saya

Jember, Jawa Timur, Indonesia